Robert Ronny: CEO Paragon Pictures

Robert Ronny: CEO Paragon Pictures
Magani unites tradition with the new; reimagining the traditional batik shirt for the needs of our contemporary society. We combine Indonesia’s rich cultural heritage with the latest innovation in performance wear material to build the ultimate durable and comfortable shirt for the modern Indonesian man who is constantly on the move. 
As we celebrate Indonesia’s heritage, we also celebrate the individuals who are unintimidated by the sweat and hard work required to defy challenges, push boundaries, and move Indonesia forward.
Meet the #MaganiMen who have inspired us that with grit and endurance, there are no limits to what you can achieve. #NOSWEATNOLIMIT
---
#MaganiMen Robert Ronny, CEO Paragon Pictures. Melihat film bukan hanya sebagai karya seni, tetapi juga sebagai medium penyampaian cerita yang menginspirasi dan memberikan dampak terhadap audiens. Simak perjalanan panjang dan dedikasi beliau untuk membangun industri film Indonesia.
---

Robert Ronny memakai Twin Peacock

Mengenal “Robert Ronny”

Saya Robert Ronny, seorang Film Maker dan CEO dari rumah produksi Paragon Pictures. Sejak masa sekolah, saya telah merasakan kecintaan terhadap film, menikmati setiap tontonan dan mengekspresikan pandangan saya melalui review. Setiap kali ada festival film, saya selalu berusaha hadir. Bioskop, pada dasarnya, adalah sekolah  bagi saya; tempat di mana saya tumbuh dan belajar dari setiap genre dan setiap cerita. Bahkan dalam sehari, saya bisa menonton 3 film berbeda.

Mimpi saya untuk menjadi film maker sudah dimulai sejak SMP. Kegemaran menulis essay dan mengirim cerpen kepada majalah dan koran menjadi salah satu bentuk ekspresi kreatif saya. Terlebih saat saya mencoba membaca tulisan dalam format skenario, saya merasa seperti menemukan panggilan sejati dalam dunia perfilman.

Robert Ronny memakai Fusiongold Tenun 

Awal Karir 

Sejak masa remaja, ketertarikan saya pada pembuatan film telah mewarnai perjalanan hidup saya. Pada masa itu, seorang Film Maker masih sering dipandang sebelah mata sehingga membuat langkah saya terasa sulit, terutama dengan keterbatasan akses ke sekolah film yang mahal dan minimnya dukungan. Setelah menyelesaikan kuliah dalam bidang teknik sipil, saya mengesampingkan keinginan tersebut dengan bekerja di perusahaan multinasional bagian pemasaran dan distribusi. Namun perasaan stagnan dan keinginan untuk berkembang lebih jauh mendorong saya mencari tantangan baru. Keputusan untuk beralih ke industri TV swasta setelah krisis tahun 1998 membuka pintu bagi eksplorasi bakat dan passion saya.

Selama 8 tahun berada di dunia pertelevisian, kurang lebih sudah ada 40 TV Shows yang saya buat atau produksi. Salah satunya adalah "Surat Untuk Ayah" di MNC TV, yang mendapatkan nominasi beberapa piala Citra. Karya ini menjadi salah satu tonggak berharga dan mengukuhkan keinginan kuat saya untuk belajar lebih menjadi film maker. Hingga pada akhirnya saya mendapatkan beasiswa ke New York Film Academy pada 2008. Setelah itu saya kembali ke Indonesia dan mendirikan Legacy Pictures sebagai Co-Founder. Disana saya terlibat dari segi produksi film dalam beberapa karya seperti Kapan Kawin? (2015) , Ada Apa Dengan Cinta 2 (2016),  Kartini (2017), Critical Eleven (2017), dan masih banyak lagi.

Membangun Paragon Pictures

Keputusan untuk mendirikan Paragon pada tahun 2019 bersama rekan saya Andi S. Boediman, merupakan langkah penting dalam perjalanan kreatif saya. Saat itu, saya merasa perlu memiliki wadah yang tidak hanya memungkinkan saya berperan sebagai sutradara, tetapi juga sebagai produser untuk menghasilkan karya film yang lengkap. Dalam kurun waktu 2 tahun, kami berhasil memproduksi 4 film layar lebar dan merilis 3 serial film seperti Losmen Bu Broto, Back Stage, dan lain-lain. Harapan saya adalah semoga industri film Indonesia terus berkembang, memberikan lebih banyak karya berkualitas, dan penonton setia terus bersatu dalam mendukung perfilman tanah air.


“Menjalankan Hobi yang Dibayar”

Saya merasa sangat beruntung bisa menjalankan hobi saya dan bahkan mendapatkan penghasilan darinya. Membuat film bukan hanya sekadar pekerjaan, melainkan sebuah hobi yang penuh kesenangan. Dengan begitu, setiap kali saya terlibat dalam proses kreatif atau menciptakan sebuah karya, saya selalu merasakan kebahagiaan yang tulus. Pekerjaan bukan lagi sekadar rutinitas, melainkan sebuah petualangan bagi saya. Melalui film, saya menemukan wadah untuk menggabungkan kecintaan dengan profesi, menciptakan harmoni dalam hidup. Sayangnya, tidak semua orang dapat menikmati hal yang sama, karena tidak semua kesenangan itu dapat dengan mudah diubah menjadi pekerjaan yang menghasilkan. Di sinilah Self-Assesment itu sangat diperlukan.

Tantangan Terberat

Proses pembuatan film semakin lama semakin menantang, baik dari segi dana yang semakin tinggi maupun kompleksitas teknis. Terlebih untuk film seperti sci-fi, animasi, dan action. Tantangan yang saya hadapi ialah belum berhasil membawa karya film sesuai dengan impian saya yakni film sci-fi dan action ke industri perfilman tanah air. Namun saya percaya bahwa setiap kesulitan adalah panggilan untuk inovasi. Meskipun belum berhasil, keinginan dan semangat untuk menciptakan karya yang diinginkan tetap menyala.

 

Hal yang Paling Berarti dalam Perjalanan Sebagai Film Maker

Film itu sangat erat kaitannya dengan penyampaian pesan dari si pembuat ke penontonnya. Cerita memiliki kekuatan luar biasa dalam menyampaikan pesan dan nilai. Bahkan agama pun menggunakan narasi sebagai alat untuk menyebarkan ajarannya, mengingat manusia secara alami cenderung terhubung dengan cerita bahkan sejak zaman dulu.

Salah satu contoh film saya, "Kapan Kawin" (2014), mengeksplorasi pesan radikal tentang keberanian untuk melawan otoritas orang tua, menyindir keyakinan bahwa semakin tua berarti semakin bijaksana. Ternyata film ini berhasil secara nyata bagi beberapa orang membuka ruang dialog penting dengan orang tua, menciptakan kesempatan untuk memahami perspektif yang berbeda. Dalam "Critical Eleven" (2017) juga, saya memaparkan kisah tentang hubungan suami istri yang merenggang akibat keguguran. Ternyata, kasus semacam ini lumrah di Indonesia dan film ini berhasil menyentuh hati beberapa pasangan yang mengalami hal serupa. Hal-hal seperti inilah yang paling berarti bagi saya sebagai film maker, dimana karya saya dapat memberikan dampak bagi orang lain.



Apa Proyek yang Paling ‘Menarik’ atau ‘Berkesan’ sejauh ini?

Setiap film bagi saya selalu ada cerita dan pengalaman yang menarik karena saya harus belajar hal baru di setiap proses nya. Contoh saja Film Kartini (2017), saya harus riset 2 tahun, sempat belajar surat-suratnya, dan pergi ke Belanda juga. Waktu bikin Critical Eleven (2017), syuting di area perminyakan. Tapi saya harus belajar banyak hal agar bisa syuting disana. Tahun depan akan ada film tentang exorcism gereja Katolik yakni ‘Kuasa Gelap’ dimana dalam proses nya saya harus belajar banyak tentang demonologi dan kitab-kitab relevan. Semua projek menarik bagi saya, tapi mungkin yang paling lekat di hati itu Kartini (2017), Critical Eleven (2017), dan Backstage (2021).

 


Bila Dapat Memutar Waktu, Apa yang Akan Diubah?

Jika ada kesempatan untuk memutar waktu, saya akan memilih untuk lebih cepat fokus pada pembuatan film layar lebar, dibanding kerja di TV. Bila harus memilih antara industri televisi dan film, tanpa ragu saya akan memilih film. Saya meyakini bahwa impak dari film melampaui televisi. Kemampuan film untuk menyentuh hati penonton, ditunjukkan dengan kemampuannya untuk dinikmati berkali-kali. Kesuksesan film Warkop yang masih tetap populer hingga saat ini menjadi bukti nyata bahwa film memiliki daya tahan dan daya ungkit yang kuat, menjadikannya lebih berimpak dibandingkan dengan Televisi.

Fakta tentang Industri Film yang Mungkin Tidak Diketahui oleh Orang Luar

Jangan mengira bahwa dunia film penuh dengan glamor dan kekayaan, karena kenyataannya tidak demikian. Proses produksi film di Indonesia masih melibatkan perjuangan yang panjang sehingga yang terlihat hanyalah sebagian kecil dari kisah sebenarnya. Pembuatan film tetap bergerilya, membutuhkan ketekunan dan dedikasi yang tinggi. Ini bukanlah bidang yang dapat ditekuni oleh semua orang.

Fun-Fact tentang Robert Ronny yang Tidak Diketahui Banyak Orang

Banyak yang tidak tahu, tapi benyanyi adalah salah satu kegiatan yang saya senangi dan saya senang karaoke, baik itu di rumah maupun saat bersama rekan. Selain itu, ada hal yang menarik juga bahwa saya masih dapat mengingat dengan sangat jelas cerita dan adegan dari film-film yang saya tonton sejak SD, meskipun sudah menonton puluhan ribu film. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya daya tarik dan impak yang dimiliki oleh seni perfilman dalam membekas di dalam ingatan saya.


Walk us through a day in your life

Saat ada proses syuting, rutinitas harian saya menjadi lebih dinamis dan didominasi berada di lokasi set. Namun, ketika tidak ada syuting, hari biasanya dimulai dengan doa pagi bersama keluarga setelah bangun tidur, dilanjutkan dengan sarapan, dan mengantar keluarga ke aktivitas masing-masing. Setelah itu, saya menuju kantor untuk berbagai pertemuan, sesi brainstorming, dan tugas-tugas lainnya. Di akhir hari, ketika kembali ke rumah, saya selalu menyempatkan waktu untuk menonton satu film.


Magani di Mata Robert Ronny

Menurut pandangan saya, Magani sangat menarik dan inovatif. Saya pribadi senang menggunakan batik, tetapi kita tahu bahwa kadang-kadang batik tidak cocok untuk dipakai dalam kegiatan sehari-hari karena bahan dan modelnya yang mungkin kurang fleksibel. Menemukan Magani, saya kaget dengan kenyamanan bahan yang digunakan, memberikan sensasi sejuk. Dengan ini, batik dapat menjadi pilihan yang sangat menarik untuk digunakan sehari-hari.

 

Click here to follow Robert Ronny on Instagram.

Click here to follow Paragon Pictures on Instagram.



Previous post Next post